Rabu, 09 November 2011

sumber ilmu pengetahuan


BAB II
PEMBAHASAN

2.1.Definisi dan Jenis Pengtahuan
                  Kata ilmu berasal dari bhasa Arab, a’lama yang berarti pengetahuan. Kata ini sering disejajarkan dengan kata science dalam bahasa Inggris. Kata science itu sendiri memang bukan asli inggris, tetapi ia merupakan serapan dari bahasa latin, scio,scire yang berarti pengetahuan dan aktivitas mengetahui.[1] 
                  Secara etimologi pengetahuan berasal  dari kata dalam bahasa inggris yaitu knowledge. Dalam Encyclopedia of phisolophy dijelaskan bahwa definisi pengetahuan adalah kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief).[2]
     
                  Secara Terminologi akan dikemukakan beberapa definisi tentang pengetahuan. Menurut Drs.Sidi Gazalba, pengetahuan adalah apa yang
3
 
diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari kenal,sadar insaf, mengerti, dan pandai. Pengetahuan itu adalah semua milik atau isi pikiran.[3] Dengan demikian pengetahuan merupakan hasil proses dari usha manusiauntuk tahu.
                  Dalam kamus filsafat dijellaskan bahwa pengetahuan (knowledge) adalah proses kehidupan yang diketahui manusia secara langsung dari kesadarannya sendiri. Dalam peristiwa ini yang mngetahui (subyek) memiliki yang diketahui (obyek) didalam dirinya sendiri sedemikian aktif sehingga yang mengetahui itu menyusun yang diketahui pada dirinya sendiri dalam kesatuan yang aktif.[4]
                  Orang Paragmatis,terutama John Dewey tidak membedakan pengetahuan dengan kebenaran (antara knowledge dengan truth). Jadi pengetahuan itu harus benar, kalau tidak benar adalah Kontradiksi. [5]

1.Jenis Pengetahuan
               Beranjak dari pengetahuan adalah kebenaran dan kebenaran adalah pengetahuan, maka di dalam kehidupan manusia dapat memiliki berbagai pengetahuan dan kebenararan. Burhanuddin Salam, mengemukakan bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia ada 4, yaitu:
a. Pengetahuan biasa
            Yakni pengetahuan yang dalam filsfat dikatakan dengan istilah common sense, dan sering diartikan dengan good sense, karena seseorang memiliki sesuatu di mana ia menerima secara baik..Dengan common sense,semua orang sampai pada keyakinan secara umum tentang tentang sesuatu, di mana mereka akan berpendapat sama semuanya. Common sense diperoleh dari pengalaman sehari-hari,seperti air dapat dipakai untuk menyiram bunga, makanan dapat memuaskan rasa lapar, musim kemarau akan mengeringkan sawah tadah hujan, dan sebagainya.
b.Pengetahuan Ilmu
                        Yaitu ilmu sebagai terjemahan dari science. Dalam pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan Alam, yang sifatnya kuantitatif dan obyektif.[6]
                        Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense, suatu pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari. Namun dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode.
4
 
c.Pengetahuan Filsafat
                              Yakni pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif. Filsafat biasanya memberikan pengetahuan yang reflektif dan kritis, sehingga ilmu yang tadinya kaku dan cenderung tertutupmenjadi longgar kembali.
d.Pengetahuan Agama
                           Yakni pengatahuan yang hanya diperoleh dari tuhan lewat para utusannya. Pengetahuan agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk agama. 
2..Perbedaan pengetahuan dengan Ilmu
                  Dari sejumlah pengertian yang ada, sering ditemukan kerancuan antara pengetahuan dan ilmu . kedua kata tersebut dianggap memliki persamaan arti, bahkan ilmu dan pengetahuan terkadang dirangkum menjadi kata majemuk yang mengandung arti sendiri. Hal ini sering kita jumpai dalam berbagai karangan yang membicarakan tentang ilnu pengetahuan. Namun jika kedua kata itu berdiri sendiri, akan tampak perbedaan antara keduanya.
                  Dalam perkembangan lebih lanjut di Indonesia, pengetahuan disamakan artimya dengan ilmu, Hal ini dapat dari pendapat-pendapat berikut:”kata ilmu berasal dari bahasa Arab ‘alima (ia telah mengetahui). Dan memang dalam bahasa Indonesia sehari-hari ilmu ilmu diidentikkan dengan pengetahan.”[7]
5
 
                  Pengetahan tentu berbeda dengan ilmu atau science terutama dalam pemakaiannya. Ilmu lebih menitik beratkan pada aspek teoretisasi dari sejumlah pengetahuan yang diperoleh dan dimiliki manusia,sedangkan pengetahuan tidak mensyaratkan adanya teoretisasi dan pengujian. Oleh krena itu, kebenaran ilmu dapat digeneralisasi, karena ia diperoleh melalui sejumlah penelitian dan pembuktian, sedangkan pengetahuan belum dapat digunakan untuk proses untuk proses generalisasi karena ia tidak menurut penelitian dan pengkajian lanjutan.
                  Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam bahasa Indonesia, pengetahuan dengan ilmu bersinonim arti. Sedangkan dalam arti material, keduanya mempunyai perbedaan.
2.2 Hakikat,dan sumber pengetahuan
      Pengetahuan berkembang dari rasa ingin tahu, yang merupakan cirri khas manuisia karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan secara sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan, namun pengetahuan ini terbatas untuk kelansungan hidupnya (survival).
               Pada pembahasan ini penulis mencoba menjelaskan tentang hakikat pengetahuan yang meliputi apa itu pengetahuan, dan bagaimana memperoleh pengetahuan tersebut dan hal ini juga merupakan bagian dari  kajian filsafat pengetahuan,   
A.    Hakikat Pengetahuan
Pengetahuan pada dasarnya adalah keadaan mental. Mengetahui sesutu adlah menyusun pendapat tentang suatu obyek, dengan kata lain mnyusun gambaran tentang fakta atau tidak? Apakah gambaran itu benar? Atau apakah  gambaran itu dekat pada kebenaran atau jauh dari kebenaran?
Ada 2 teori untu mengetahui hakikat pengetahuan itu, yaitu :
a.Realisme
         Teori ini mempunyai pandangan realistis terhadap alam. Pengetahuan  menurut realisme adalah gambaran atau kopi yang sebenarnya dari apa yang dalam alam nyata (dari fakta atau hakikat). Pengetahuan atau gambaran yang ada dalam akal adalah kopi dari yang asli yang ada yang ada di luar akal. Hal ini tidak ubahnya seperti gambaran yang terdapat dalam foto. Dengan demikian, realisme berpendapat bahwa pengetahuan adalah benar dan dan teppat bila sesuai dengan  kenyataan.
6
 
         Menurut Prof.Dr.Rasjidi, penganut agama perlusekali mempelajari realisme dengan alas an ;
1 .Dengan menjelaskan kesulitan-kusiltan yang terdapat dalam   pikiran.
2. Dengan jalan mmberi pertimbangan –pertimbang yang positif.
b. Idealisme
                  Ajaran idealisme menegaskan bahwa untuk mendapatkan pengetahuan yang benar-benar sesuai dengan kenyataan adalah mustahil. Pengetahuan adalah proses-proses mental atau proses psikologis yang bersifat subyektif. Oleh karena itu pengetahuan bagi seorang idealis hanya merupakan gambaran subyektif dan bukan gambaran obyektif tentang realitas. Subjektif dipandang sebagai Sesutu yang mengetahui yaitu dari orang yang membuat gambaran tersebut. Karena itu, pengetahuan menurut teori ini tidak menggambarkan hakikat kebenaran. Yang diberikan pengetahuan hanyalah gambaran menurut pendapat atau penglihatan orang yang mengetahui (subjek).
                  Idelisme subyektif juga akan menimbulkan kebenaran relatif  karena setiapindividu berhak untuk menolak kebenaran yang datang dari luar dirinya. Akibatnya, kebenaran yang bersifat universal tidak diakui. Kalau demikian jadinya, aturan-aturan agama dan kemasyarakatan hanya bisa benar untuk kelompok tertentu dan tidak berlaku bagi kelompok lain.
         B.Sumber Pengetahuan
            Semua orang mengakui memiliki pengetahuan. Persoalannya dari mana pengetahuan itu diperoleh atau lewat apa pengetahuan didapat. Dari situ timbul pertanyaan bagaimana caranya kita memeroleh pengetahuan atau dari mana sumber pengetahuan kita? Pengetahuan yang ada pada kita diperoleh dengan menggunakan berbagai alat yang merupakan sumber pengetahuan antara lain :
a.      Empirisme
7
 
                           Kata ini berasal dari kata Yunani emperikos, artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperolrh pengetauan melalui pengalmannya. Dan bila dikembalikan kepada kata Yunani, pengalaman yang dimaksud ialah pengalaman inderawi.[8]        
                           Pengetahuan inderawi bersifaf parsial. itu disebabkan oleh adanya perbedaan antata indera yang satu dengan yang lainnya.Jadi pengetahuan inderawi berada menurt perbedaan indera dan terbatas pada senssibilitas organ-organ tertentu.
                           Hal ini dapat dilihat bila kita memperhatikn pertanyaan seperti: Bagaimana orang mengetahui es itu dingin? “seorang empiris  akan mengatakan, “karena saya merasakan seperti itu.”
                           Jadi dalam empirisme, sumber utama untuk memperolehpengetahuan adalah data empiris yang diperoleh dari panca indera . akal tidak fungsi banyak, kalupun ada, itupun sebatas ide yang k abur.[9]
b.                 
8
 
Rasionalisme
               Aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia memperoleh pengetahuan melalui kegiatan menangkp  objek.
               Bagi aliran ini kekeliruan pada aliran empirisme yang disebabkan kelemahan alat indera dapat dikoreksi, seandainya akal digunakan. Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indera dalam memperoleh pengetahuan. Pengalaman indera diperlukan untuk merangsang akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja, tetapi sampainya manusia pada kebenaran adalh semata-mata akal. Laporan indera menurut rasionalismemerupakan bahan yang belum jelas, bahkan ini memungkinkan dipertimbangkan oleh akal dalam pengalaman berfikir. Akal mengatur bahan tersebut sehimgga dapatlah terbentuk pengetahuan yang benar. Jadi fungsi panca indera hanyah untuk memperole data-data dari alam nyata dan akalnya menghubungkam data-data itu satu dengan yang lain.
c.          Intuisi
            Menurut Henry Bergson intuisi adalah hasil dari revolusi pemahaman yang tertinggi. Kemampuan mirip dengan insting, tetapi berbeda dengan kesadaran dan kebebasannya. Pengembangan kemampuam ini (intuisi) memerlukan suatu usaha.[10] Ia juga mengatakan bahwa intuisi adalah suatu pengetahuan yang lansung, yang mutlak dan bukan pengtahuan yang nisbi.[11]
            Menurutnya, intuisi mengatasi sifat lahiriah pengetahuan simbolis, yang pada dasarnya bersifat analisis, menyeluruh, mutlak dan tanpa dibantu oleh penggambaran secara simbolis. Karena itu intuisi adalah sarana untuk mengetahui secara lansung dan seketik. Analistis atau pengetahuan yang diperoleh lwat pelukisan tidak dapat menggantikan hasil pengenalan intuisi.[12]
            Intuisi bersifat personal dan tidak bias diramalkan. Sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur, intuisi tidak dapat diandalkan. Pengetahuan intuisi dapat dipergunakan sebagai hipotesa bagi analisis selanjutnyadalam menentukan benar tidaknya pernyatan yang dikemukakan.
d.         Wahyu
9
 
               wahyu adalah pengetahuan yang disampaikan oleh Allah kepada manusia lewat perantara para nabi. Para nabi mmperoeh pengetahuan dari Tuhan tanpa upaya, tanpa berusaha, tanpa memerlukan waktu untuk memperolehnya. Pengetahuan mereka terjadi atas kehendak tuhan semesta. Tuhan mensucikan jiwa mereka dan diterangkan-Nya pula jiwa mereka untuk memperoleh kebenarandengan jalan wahyu.
BAB III
PENUTUP

                        3.1.kesimpulan
            Dari uraian yang sudah dpaparkan dapat ditarik kesimpulan bahwa :
v  Pengetahuan adalah hasil proses dari usaha manusia untuk tahu.
v  Jenis pengetahuan ada 4 yaitu:
1.Pegetahuan biasa
2.Pengetahuan ilmu
3.Pengetahuan filsafat
4.Pengetahuan agama
v  Pengetahuan dan ilmu bersinonim arti sedanh\gkan dalam arti materlal keduannya mmpunyai perbedan.
v  Hakikat pendidikan dibagi 2: Realisme. Idealisme.
v  Sumber pengetahuan dibagi 4: Empirisme, Rasionalisme, Intuisi, Wahyu
v  Ukuran kebenaran ada 3 tori: teori korespondensi,teori koherensi, Teori pragmatisme, Agama sebagai Teori Kebenaran.



10
 
 

3.2.Saran
      Kita ketahui bahwa dalam pembutan makalah ini masih banyak melakukan kesalahan. Oleh karena itu kami mohon maaf yamg sebesar-besarnya dan kami sebagai insan yang lebih muda patut untuk mendapatkan saran-saran untuk kepentingan hidup kita, terlebih lagi saran agar kita dapat membuat makalah ini lebih baik lagi.





DAFTAR PUSTAKA
Bakhtiar,Amsal.Filsafat Ilmu, Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,2000.
Sumarna,Cecep.Filsafat Ilmu dari hakikat menuju Nilai, Bandung:Pustaka Bani Quraisy,2006.
Salam,Burhanuddin. Pengantar Filsafat,Jakarta:Bumi Aksara,1995.



11
 
 


[1] Sidi Ghazalba.Sistematika Filsafat, (Jakarta:Bulan Bintang, 1973),hal.41
[2] Paul Edwars,Th Encyclopedia of philosophy, (New York: Macmillan Publishing, 1972) vol.3
[3] Sidi Ghazalba.Sistematika Filsafat, (Jakarta:Bulan Bintang, 1992),,cetakan 1,hal 4

[4] Loren Bagus, Kamus Filsafat, (Jakart:Gramedia.1996), cet.1 hal 803.
[5] Burhanuddin Sab.lam, Logika Materiil, (Jakarta:Rineka Cipta, 1997), cet.I, hlm.28
[6] Burhanuddin salam, Pengantar Filsafat,(Jakarta:Bumi Aksara ,2000),cet. IV,hlm 6
[7] Sidi Gazalba, Islam Integrasi Ilmu dan Kebudayaan, Jakarta:Tintamas.1967), hlm.2.
[8] Ahmad Tafsir, Fisafat ,hlm.24
[9] Amsal Bakhtiar,Filsafat, hl.44
[10] Ahmad Tafsir , op.cit, hlm.27
[11] Louis O.Kattsoft,pengantar filsafat, (yogyakarta:Tiara  Wicana Yogya,1996) cet VII, hlm.146.
[12] Ibid.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar